Apa itu Antropos?
Yayasan Antropos Indonesia (lebih sering disebut Antropos) merupakan yayasan nirlaba yang bergerak di bidang sosial-budaya yang dibentuk pada 8 Februari 2019 oleh tiga orang, yakni Dr. Ahmad Ismail, S.Sos, M.Si, dr. Achmad Harun Muchsin, dan Andi Muhammad Yusuf K, S. Sos, M.Si. Antropos sendiri berasal dari bahasa Yunani, anthropos (ἄνθρωπος) yang artinya ‘manusia’, meskipun dalam beberapa sumber, kata ini memiliki makna yang sama dengan ‘manusia pertama’ (dalam Gnostisisme) atau Adamas/Gerardamas (yang dalam Bahasa Ibrani berarti ‘bumi’) juga serupa dengan kata Adam, manusia dalam kisah penciptaan alam semesta pada kepercayaan Kristen dan Islam. Apapun arti katanya, maknanya merujuk kepada manusia, suatu makhluk yang berakal dan berbudaya.
Dalam pemilihan nama gerakan ini, kata Anthropos tersebut lalu diubah menjadi ‘Antropos’ sehingga terkesan lebih ‘lokal’ dan lebih mudah ditulis serta diucapkan. Kata ini dipilih karena sebagian besar mereka yang terlibat di Antropos memiliki latar belakang keilmuan antropologi (ilmu tentang manusia dari seluruh aspeknya) sehingga konsep-konsep yang berkaitan dengan manusia, utamanya pada dimensi sosial-budaya, sangat karib bagi mereka yang ‘ber-Antropos’.
Antropos berawal dari kegelisahan mereka yang tergerak hatinya untuk berkontribusi kepada masyarakat dengan cara kecil dan sederhana. Antropos percaya bahwa masalah-masalah rumit di masyarakat sukar dituntaskan sekaligus, apalagi jika dipercayakan kepada segelintir orang. Perlu adanya gerakan yang memang berasal dari bawah, diinisasi oleh mereka yang memang dekat dengan permasalahan, dilakukan secara pelan, bertumbuh bertahap sembari belajar, dan dikolaborasikan dengan pihak-pihak lain yang berkompeten, berintegritas, dan memiliki visi serta semangat gerakan yang sama.
Meskipun sudah terbentuk sejak 2019, Antropos di dua tahun pertamanya masih berada di titik yang cenderung gamang, masih meraba, mencari jalan terkait program dan luaran yang hendak dilakukan. Lalu pada awal 2022, setelah melakukan evaluasi terkait kondisi internal Antropos sendiri yang mana beberapa anggotanya tidak lagi berdomisili di Sulawesi Selatan juga mengingat pentingnya semangat gerakan ini, maka anggota Antropos pada saat itu memutuskan untuk melakukan restrukturasi dan rebranding Antropos dengan lebih baik lagi. Mulai dengan merekrut talenta-talenta muda berpotensi dan berintegritas dari level mahasiswa, fresh graduate, hingga dosen.
Hingga saat ini, Antropos tetap bergerak dengan belajar ke berbagai gerakan juga organisasi, mulai dari komunitas desa, kelompok pinggir jalan, ruang kolaboratif, perpustakaan, rumah budaya, organisasi kampus, LSM, lembaga pendidikan seperti kampus dan sekolah, hingga pemerintah daerah. Kami berharap agar gerakan-gerakan, kantung-kantung, ataupun inisiatif-inisiatif serupa juga bermunculan sehingga bersama-sama turut memajukan kebudayaan. Bukankah lebih baik menyalakan lilin bersama-sama ketimbang mengutuk kegelapan? Fiat lux, let there be light!
